Nostalgia Adalah Kemewahan Dari Yang Sudah Ditinggalkan
Suatu hari dari meja sebuah kedai. Seorang gadis pergi menuju meja angkringan. Bersama teman mencari panganan untuk sekadar berdiskusi nyaman. Kedainya aesthetic, mengusung konsep lawasan dari dapur dan rumah simbah. Tempatnya asik menyuguhkan sajian dari masa lalu yang selalu diajak menjadi baru. Lewat romansa rumah di pedesaan, dibuat sederhana tapi tak sesederhana meja kursi saja. Banyak pernak-pernik benda-benda antik dan unik. Lalu diambilnya sebuah piring kaleng lawas bermotif bunga. Si gadis mulai melihat dan memilih mau makan yang mana. Sajian berwarna dijaja membuat selera. Sudah jauh-jauh dari rumah untuk menikmati romansa, ya harus pilih yang tak biasa! Jajanan yang paling lawas atau yang paling membawa vibe desa menjadi pilihan tentunya. Tahu bacem, botok kelapa, jenis ubi rebus yang jarang dimakannya, juga sebiji kue apem. Tapi selera tak bisa di batasi eforia nostalgia. Nyatanya sate jeroan dan tahu bakso dari jenis yang lebih modern masih dimasukkan dalam piring dan diangkut juga. Dipesannya juga secangkir kenikmatan dari wedangan. Bajigur, ini jenis minuman masa lalu bukan umpatan pada kondisi dompet masyarakat yang katanya lagi menangis di pojokan. Oya bajigur itu minuman tradisional dari Sunda (Jawa Barat) yang terbuat dari santan, gula aren/gula jawa dengan kopi bubuk serta jahe bakar geprek, daun pandan dan kayu manis untuk rasa otentik aslinya. Tapi kali ini rasanya lebih dikenali sebagai campuran santan, gula jawa, susu kental manis, jahe geprek dimana potongan roti, pisang, nangka dan kolang kaling mendominasi ditemani secuil pecahan gula batu dalam adukan. Tak lupa ia juga memesan sebungkus nasi kucing yang tak lagi dibungkus. Ia disajikan ramesan, dengan menggunakan piring anyaman bambu. Begitu juga dengan temannya yang lebih memilih panganan berdasarkan selera saja. Haha sah-sah saja antara meromantisasi dan menikmati atau sekadar berpartisipasi menikmati hari.
Kemudian mereka balik ke meja yang terletak dari salah satu ruang pajang. Sebuah sepeda tua diparkirkan di dalam dekat meja. Disampingnya sebuah mini kompo lawas dengan pemutar kaset yang menyala memutar lagu romansa bertema cinta. Lalu keduanya mulai berdiskusi tentang apa yang mereka amati dan mengkritisi sembari tetap meromantisasi dalam sebuah selfie. Gadis itu bilang "hei ini seperti piring-piring dirumah mu ya?" sembari sibuk mengatur tata letak menjadi food stylist abal-abal dadakan sebelum makan. "haha iya orang cari sensasi makan di rumah simbah, sedang aku tiap hari masih makan di rumah bekas simbah beneran" jawab temannya. Benar temannya itu memang tinggal di pedesaan di rumah bekas neneknya yang bernuansa kayu, dengan vibe desa yang mengusung konsep lawasan. Jadi barang-barang yang dianggap aesthetic dan antik di kedai itu terasa tak pergi jauh keluar rumah. Hahaha dan mereka tertawa. Menertawakan bagaimana dunia bekerja saat ini. Sebuah pemgalaman juga menikmati jenis ubi rebus yang sulit dikupas. Butuh effort maksimal bermodal kuku dari Tuhan. Dan ternyata jenis ubi itu jika tak segera dimakan setelah di kupas rasanya jadi tak pulen lagi. Setelah teroksidasi dia jadi seperti ubi yang belum benar-benar masak rasanya. Pengalaman membeli pelajaran mengenal berbagai peradaban bahkan dari jenis panggangan. Kembali dari keruwetan mengupas ubi, mereka menyadari kalau manusia itu lucu. Rumah nenek atau simbah direnovasi menjadi konsep modern yang terlihat bersih, praktis dan minimalis. Mereka sibuk mengusahakannya sampai lelah dan mereka bilang butuh healing biar ga gila. Lalu mereka pergi ke tempat dengan nuansa rumahan lawasan kembali ke dapur simbah di pedesaan. Sekadar melepas kangen-kangenan dari apa yang telah ditinggalkan. Ironis bukan? hahaha.
Sama seperti penduduk desa pergi ke kota mencari kesempatan. Lalu pulang ke desa membawa pulang pendapatan untuk kenikmatan atau mungkin juga dibagikan. Kalau masih sayang, kenapa dihilangkan padahal sulit dilupakan. Kalau desa akan selalu jadi tempat yang nyaman kenapa ditinggalkan hanya karena katanya di kota banyak kesempatan. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? ini akibat meromantisasi kehidupan atau kemajuan yang belum merata terdistribusikan? Hahaha nikmati rasanya jangan lupa harganya! Selesailah mereka berbincang dan kembali ke meja angkringan untuk membayar kenyataan. Lima puluh empat ribu rupiah untuk sebuah kemewahan meromantisasi ingatan sembari mendukung perekonomian.
Comments
Post a Comment
thanks,