Menjenguk Ibu Yang Sakit



Rumah sakit pagi ini sepi, dari lorongnya terlihat ubin dingin selasarnya mengamini hening usia yang kian menua. Berbaju merah dan putih ia terbaring. Berselimut hitam duka alam dan tangisan. Usianya tak muda lagi, sudah 81 tahun. Meski begitu dia tetap ibu pertiwi yang cantik jelita. Ibu yang selalu sayang anak-anaknya. Senyum ramahnya dikenang banyak orang dan kabar sakitnya pun diketahui dunia yang melihatnya penuh iba. Sakit apa sebenarnya? rambutnya rontok ditikam pembalakan dan deforestasi hutan, kulitnya retak akibat penggunaan makeup yang tak jelas bahan bakunya karena biayanya banyak dipangkas. Belum lagi injeksi bumi yang bertubi tiada henti terus menyakitinya. Oya belum lama perutnya bergejolak lagi, meradang sakit menggoyang kestabilan tubuhnya di bagian timur, barat dan juga tengah. Perawat dan dokter dari mana-mana ada tapi semua terasa tak becus sembuhkan komplikasinya, bahkan mendeteksi bagian mana yang paling meradang saja tak bisa. Tetapi hening rumah sakit pagi itu tetap dipaksa bertepuk tangan atas perayaan meski tahu ibu begitu lemah terbaring sakit dalam sebuah ruang terisolasi. Semua yang mejenguk ibu merasa pilu, mereka hanya bisa berharap kesembuhannya tetapi tak tahu harus berbuat apa. Sudah banyak biaya dikeluarkan dari donatur dan mereka yang patungan membayar perawatan untuk ibu. Karena terisolasi ruangan itu, maka hanya petugas medis saja yang bisa menyentuh ibu. Sementara semua mata hanya bisa menatapnya dari jendela melihat ibu sedang merintih sedih. Cepat pulih ibu banyak doa menyertaimu. 

Comments