Buket Daun Kacang Panjang



Siang kemarin, keluar dari supermarket, seorang tukang parkir yang sudah akrab dan selalu tanya mau ke Jakut (Jakal Utara) atau Jaksel (Jakal Selatan) bilang kalau kami pulang dari memancing di dalam lantaran melihat beberapa ikan bakar di tas belanjaanku, dan kami tertawa menyetujui candaan itu. Tukang parkir itu juga bilang, “Mbak, masnya romantis sekali, dikasih buket segala.”

“Iya,” kataku sambil tertawa. Memang benar, daun kacang panjang ini diplastik mirip buket. Ah, ini definisi humor seharga dua ribu rupiah dan fakta nyata kalau orang yang belum pernah dapat buket bunga dalam hidupnya ternyata bisa dapat buket daun kacang panjang pada suatu ketika. Bedanya hanya dari siapa? Tapi yang ini beli sendiri.

Jadi, jika bahagia tidak diberikan, maka belilah sendiri dan ciptakan. Dan bahagia juga bisa seperti kupu-kupu: dikejar dia tak bisa, tak dihiraukan dia menghampiri.

Tapi, benarkah hal remeh-temeh ini adalah kebahagiaan? Atau jangan-jangan otak kita dimanipulasi oleh sebuah nilai bahwa harga yang lebih mahal dan dari orang spesial adalah kebahagiaan? Padahal bisa saja itu sebuah ekspektasi yang bersembunyi di balik nilai atau harga.

Fakta lain, buket daun kacang panjang juga berguna, bisa untuk dibuat sayur. Ya, ini bukan apple to apple. Tapi, kebahagiaan itu sama juga: melahirkan senyum, meringankan hari yang terik, dan memberi energi positif menjalani hidup daripada menunggu buket bunga yang tak pernah ada.

Comments