Simbah Pahlawan Sampah
Jogja dengan berbagai potensi wisata di tengah geliat pandemi yang memporak-porandakan perekonomian rakyat. Hai, apa kabar dunia yang menyembunyikan bungkam sebuah potret kehidupan di pedalaman Gunung Kidul? Selembar kisah dari Pantai Greweng siang itu.
Peluh mengalir dari kulit keriputnya yang kecoklatan, terbakar matahari. Di usia senjanya, untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia berjalan kaki menempuh perjalanan tiga hingga empat jam sehari melalui hutan, semak-semak, dan karang, berbekal sandal jepit usang, kain jarik lusuh, sebilah arit, dan caping. Pergi meladang entah ladang siapa, merambat bunga dari pohon pepaya dan juga daunnya yang muda untuk dijadikan sayur.
Di sela kehidupannya yang sesederhana itu, dengan ramah ia masih menawarkan, "Purun nopo mas, kembang katesé?" (Mau apa, mas, bunga pepayanya?), yang hendak diberikannya cuma-cuma, selepas mencuci tangan dan sandalnya di sungai kecil Pantai Greweng itu, saat disapa seorang pengunjung pantai. Entah kenapa ia melepas sandalnya, menjinjing, dan membawanya pulang. Sesederhana itu baginya, sandal itu berharga dan dieman.
Sembari mengais botol air mineral bekas dari tempat wisata yang ditinggalkan oleh traveler tak bertanggung jawab, dengan sabar ia melakoninya sebagai pahlawan sampah. Ironis memang, kebrutalan perilaku traveler tak bertanggung jawab menjadi sumber rejeki di kehidupan yang tersembunyi itu. Namun tak lantas dibenarkan juga aktivitas membuang sampah sembarangan hanya karena kalimat "nyatanya itu memberi manfaat bagi pemulung", karena jika pahlawan-pahlawan sampah itu tak ada lagi, entah siapa lagi yang peduli dengan suatu tempat.
Menjadi pengagum keindahan itu mudah, tetapi menjadi perawat keindahan hanya bisa dicapai dari kesadaran diri atas nikmat. Pantai Greweng, surga kecil yang saat ini belum begitu banyak diakses wisata karena terkendala aksesnya. Kenalilah dan bercengkramalah di surga kecil Gunung Kidul dan pantai yang masih cukup perawan ini, tetapi jangan lupa untuk tetap menyayanginya sebelum kamu tinggalkan. Barangkali kita berjumpa lagi, ada janji kebahagiaan yang masih ingin dilukiskan atau diceritakan di setiap butir pasirnya ke anak cucu kita nantinya.
"Sehat selalu mbah, salam dari kota ke Girisubo." ♻️🌱
Comments
Post a Comment
thanks,