Lajering Sekar Sinesep Peksi
Lajering Sekar Sinesep Peksi (kuntum bunga dihisap burung) berasal dari candrasengkala (penunjuk tahun berdasar peredaran bulan) yang tersirat catatan tahun berdirinya plengkung pada ukiran bubungan Plengkung Nirbaya Gading. Lajering dimaknai sebagai satu, Sekar bermakna sembilan, Sinesep bermakna enam, dan Peksi bermakna satu (baca: 1961). Adapun plengkung dahulu berfungsi sebagai benteng pengawas. Sebagai pintu keluar masuknya Keraton dikenallah 5 plengkung, yaitu:
1. Plengkung Tarunasura (dijaga prajurit muda) yang lebih dikenal sebagai Plengkung Wijilan, letaknya di sebelah timur Alun-Alun Utara.
2. Plengkung Madyasura (plengkung buntet/tertutup) yang selanjutnya ditutup kemudian masa Sultan HB VIII dibongkar dan dinamai gapura gerbang biasa, terletak di sisi timur Keraton.
3. Plengkung Jagabaya (makna: jaga dari bahaya) di sisi barat daya Pasar Ngasem dan Tamansari.
4. Plengkung Jagasura (makna: dijaga pemberani) letaknya di sisi barat Alun-Alun Utara.
5. Plengkung Nirbaya / Gading (makna: bebas dari bahaya duniawi) terletak di sisi selatan Keraton. Yang membedakan dari plengkung lainnya, Plengkung Nirbaya terdapat sebuah sirine setelah naik dari anak tangga sisi kiri. Sirine tersebut hanya dibunyikan saat peringatan Kemerdekaan 17 Agustus dan menjelang buka puasa bulan Ramadhan.
Konon mitos ceritanya, Plengkung Nirbaya ini tidak boleh dilewati raja (Sultan Hamengkubuwono) sewaktu masih hidup, tetapi hanya boleh dilewati jika Sultan sudah wafat untuk kemudian dimakamkan ke Imogiri. Adapun sebaliknya, masyarakat biasa jika meninggal tidak diperkenankan melewati plengkung ini, meski berdekatan, harus lewat jalan lain.
Sebuah potret romantis dari atas Plengkung Nirbaya dengan temaram lampu-lampu di kota Jogja
Comments
Post a Comment
thanks,