Craving Emosional Semangkuk Mie Instan
Mie instan, makanan cepat saji yang sangat terkenal di negeri ini. Berbagai merek dagang menjadi pilihan sesuai selera lidah penikmatnya. Dengan berbagai kategori, dari tekstur mie dan kekenyalannya, citarasa bumbu, porsi hingga harga, bahkan diskon serta paket penjualan dan bonusnya, menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan sebagai variabel untuk mengukur eksistensi produk mie instan sebagai salah satu opsi makanan.
Cukup populer, mudah dalam proses penyajiannya. Sat set praktis dengan waktu, apalagi mengafirmasi kemalasan seseorang untuk mengolah raw food yang sebenarnya jauh lebih sehat. Belum lagi, situasi hujan dan malam sering meromantisasi semangkuk mie instan menjadi seperti rasanya berteman dalam pelukan dan cinta yang paling mengerti perut atau lidah yang kesepian. Sebuah pembenaran yang awalnya: “Ah, sekali-kali kok ini. Karena hujan ini, karena nggak ada makanan lain, ngemie aja lah ya…” Tambahan topping telur dan cabe menjadikannya eksotis sempurna untuk dinikmati.
Indra penciuman? Siapa yang tak jatuh cinta, aromanya tak bisa didustakan untuk lupa. Bahkan orang yang sudah makan, berpuasa, atau sedang menjalani diet sering runtuh keteguhannya dengan pesona mie instan. “Tak kenal maka tak sayang,” sebuah ungkapan tepat untuk mengerti lebih jauh tentang bahaya dari menyantap mie instan terlalu sering.
Selain dikategorikan junk food, ada hal yang perlu digarisbawahi ketika membeli, memasak, dan memakan mie instan jenis apapun. Ya, dia adalah tentang keberadaan kadar garamnya yang tinggi. Kadar garam yang tinggi dalam sebuah makanan dapat memicu tekanan darah tinggi (hipertensi). Dalam sebungkus mie instan, memang kadar garamnya masih di bawah angka kebutuhan normal garam pada manusia dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Tetapi masalahnya, mie instan seringnya tidak dimakan sebagai makanan tunggal dalam sehari. Belum lagi topping dan bumbu pendampingnya seperti saus, sambal, kecap, gorengan, dan food processing lainnya (sosis, nugget, kornet, bakso) yang menambah nikmat tetapi juga tinggi kadar garamnya.
Saat usia kita masih muda dan banyak aktivitas, barangkali paparan garam dalam tubuh kita tidak terlalu jadi masalah. Tetapi pada usia lebih dewasa, di mana aktivitas gerak kita sudah terbatas hanya sekadar bekerja duduk, bukan fisik lapangan, eksistensi garam dalam mie instan bekerja merong-rong kesehatan jangka panjang.
Tak dipungkiri, selain praktis dan ramah kantong, mie instan ini sering menjadikan penikmatnya ketagihan. Kebiasaan paparan rasa umami, asin, serta bumbunya menstimulasi otak untuk terus meminta lagi dan lagi. Hingga pada saat tekanan darah naik, reseptor pada lidah menjadi lemah dan meminta tingkat keasinan ke-umamian dalam kadar dan jumlah yang semakin banyak. Akibatnya boom hipertensi, yang menjadi salah satu penyebab utama penyakit kardiovaskular dan stroke otak pun mendominasi kemungkinan peluang untuk terjadi.
Belum lagi tepung-tepungan yang tidak gluten-free pada mie-nya adalah sumber karbohidrat yang berat untuk dicerna. Dan pada kapasitas yang semakin meningkat, menaikkan risiko kenaikan gula darah dalam tubuh, sehingga resistensi insulin dan meledak lagi, diabetes juga menjadi peluang lainnya untuk terjadi.
Ada sebuah cara yang pernah kupakai untuk lepas dari kecanduan makan mie instan. Haha, sebelumnya ijinkan aku bercerita dulu. Saat sekolah di bangku SMA, aku dikenal kurus kering seperti kurang gizi. Benar, barangkali aku memang kurang gizi karena aku tidak suka makan, terlebih sayur. Dan hampir setiap hari aku makan mie instan sebagai pelarian kebutuhan atas kenikmatan.
Sampai salah satu teman sekelasku saat SMA mengingatku sebagai “pemakan mie sejati,” dimana hingga dewasa saat bertemu lagi pada sebuah perbincangan dia bilang setiap kali lihat mie instan dia ingat ak, ah sampai semie itukah wajahku? hahaha. Rupanya, dulu kecintaanku pada mie instan menjadi sebuah topik yang dia perbincangkan dengan sahabatnya yang juga teman sekelasku. Katanya: “Kok bisa ya dia makan mie setiap hari dan juara paralel kelas?” Haha (maaf, ijin bukan pamer prestasi yang kontradiktif ya, ini sekadar cerita aja). Lalu tukas mereka lagi dalam ceritanya: "Barangkali kita juga bisa pintar ini kalau ikut dia makan mie tiap hari." Hahaha, dan gilanya mereka benar-benar mencoba melakukan kegilaan itu.
Dan aku baru tahu dari ceritanya saat dewasa dan berbincang lagi. Tak sampai bertahan satu bulan dari target mereka, hanya dalam hitungan hari (mingguan) mereka sudah tidak sanggup dan menyerah. Ya, meski mie instan begitu enak dan candu, tapi paparan kenikmatan yang terus-menerus akan membuatnya tak lagi menarik dan nikmat lagi. Disitulah overexposure disengagement bisa dijadikan strategi untuk berhenti dari kecanduan pada rasa. Haha, barangkali bisa juga diaplikasikan untuk rasa yang pernah ada, supaya ogah, tidak mau lagi bersinggungan, dan melupakan ya kan.
Kembali pada strategiku lepas dari kecanduan mie instan tadi. Ya, aku pernah melakukan itu beberapa kali saat kecanduan mie instan mulai terjangkit lagi. Sengaja memakannya pagi, siang, sore, malam dengan alasan praktis agar aku bisa merasa bosan dan tak lagi bisa merasakan nikmatnya. Selain itu, teknik memakannya dengan kesadaran mengunyah lebih lama. Cara itu membuat mie instan terasa "rasa rawnya" yaitu tepung. Pada paparan yang berulang, percayalah ini bukan nikmat lagi tapi eneg, dan hilang euforia citarasa bumbu apapun.
Padaku cara itu bekerja, karena aku jadi tidak ingin makan berulang terus menerus dan kecanduan mie instan lagi. Kini dua atau tiga kali dalam sebulan, wajarlah untuk dijadikan diferensiasi menu makan di kehidupan modern ini (haha padahal bilang saja aku rindu makan mie). Intinya, kesengajaan paparan terus-menerus akan sampai di titik jenuhnya.
Jadi itulah salah satu strategi lepas dari kecanduan mantan… eh, mie instan. Hahaha. Oya, kenapa dulu saat SMA aku bisa makan mie instan hampir setiap hari dan baik-baik saja? Ya, kuncinya bergerak! Dulu aku banyak jalan kaki. Dari rumah sampai jalan raya untuk menunggu angkutan, lalu dari terminal untuk sampai sekolah jalan kaki lagi. Sehari diulang dua kali pulang-pergi, dan diulang setiap hari. Kelebihan gula dalam tubuh diolah menjadi energi gerak, dan garam keluar melalui keringat saat bergerak aktif.
Jadi ya, makanlah mie dan aktifkah bergerak terus, atau nikmatilah kenikmatan apapun dalam hidup, jangan lupa keseimbangannya. Konsep pertama, segala sesuatu yang tersedia banyak, melimpah, menjadi tidak ada kenikmatannya. Karena otak mengenalinya sebagai ketersediaan mudah bahkan murah. Hal ini bisa berlaku pada kecintaan apapun dalam hidup. Sedangkan konsep kedua dimana kecanduan adalah kondisi dari keterbatasan atas ketersediaan dari apa yang disukai itu. Sehingga ingatan atas rasanya menstimulasi otak menjadi keinginan repetition. Jika tidak terpenuhi maka tubuh ada dalam fase sakaw.
Bijaksana terlebih dahulu mengenali sejauh apa tingkat kecanduannya, sebelum mengaplikasikan strategi tertentu lepas dari kecanduan itu. Overexposure disengagement bekerja seperti pada hal yang pertama, yaitu ketersediaan. Sehingga kecintaan pada suatu hal akan menemukan titik jenuhnya. Kecanduan ringan hingga sedang bisa dikurangi. Sedang pada kecanduan berat, diet ketat dan pengurangan paparan barangkali cara sehat. Maka kemampuan menyeimbangkan adalah kunci tetap hidup sehat dan nikmat!
Karena apa yang nikmat belum tentu sehat! Selamat menikmati semua pada porsinya!
Comments
Post a Comment
thanks,