Keabadian Liburan Masa Kecil
Sumber visual: Google map (edited AI)
Dalam sepi samar kulihat ruangan demi ruangan. Dari ujung depan kamar tamu, dengan tirai kain tenun berbahan wol berwarna merah khas gorden lawasan masyarakat Jawa. Angin menyibak membelai perlahan terasa seperti sebuah bayang berayun dari kamar itu, tanpa kutahu siapa atau hanya imaji nyali ciut yang sedang penasaran muaranya.
Ruang tamu yang luas dan besar dengan meja kursi serta perabotan dari kayu jati dan jam besar pun berdiri angkuh di ujung ruangan. Jam besar digantung tepat di mana nenek buyutku biasa duduk dengan kursi malas di bawahnya, dan tongkat di tangannya yang keriput namun berwibawa. Sesekali jam berlemari kayu itu berdentang memecah sepi. Dan bau basah kota yang melekat dalam atmosfer ruangan rumah semakin menusuk, seolah membisik si bocah dengan kata, "Kosong, coba tengok kamar itu."
Aku melihat diriku yang masih kecil begitu takut memandang kamar pertama dan kedua yang tak berpenghuni. Rasa penasaran selalu begitu kuat, tapi keengganan menelisik atau mengintip pun enggan kulakukan. Semenakutkan itu sugesti di pikiran bocahku. Bahkan sampai dewasa ini, kedua ruangan itu masih menjadi misteri yang tak pernah aku masuki.
Satu-satunya yang hangat adalah kamar nomor tiga, ya itu adalah kamar yang dipakai oleh kakekku. Dengan sebuah meja kayu yang diletakkan dekat jendela. Selain itu ada sebuah tempat tidur besi lawasan dengan kelambu nyamuk. Sebuah rantang besipun menjadi penghuni di atas meja kayu itu. Rantang besi itu sampai hari ini masih kusimpan. Ya, rantang itu adalah senjata harian sarana tuk mengisi perut di perantauan oleh kakekku, saat tinggal untuk menemani ibu angkatnya.
Kakekku biasa membeli masakan jadi. Alih-alih repot kalau harus memasak setiap hari, karena ia harus bekerja merawat kebun dan kolam lelenya.
Jika aku pergi liburan ke sana, aku hanya akan berada di dalam kamar kakekku, ruang tamu, atau depan kolam ikan lele di samping halaman jika harus sendirian. Selebihnya, rumah itu akan selalu membuat aku si bocah ingusan bernyali ciut. Atmosfer rumah yang sepi dan terasa besar akan semakin menciutkan nyali untuk keluyuran di ruangan lain tanpa kehadiran kakek atau nenekku.
Sesekali kulihat dari sekat ruang tamu ke ruang tengah nenek buyutku. Tampak sebuah meja makan besar lawasan dan beberapa perabot kuno seperti televisi tabung dengan almari kayu kotaknya. Sebuah kursi malas rotan diletakkan lurus menghadap TV dibalik tembok yang bersebelahan dengan kamar kakekku. Kursi rotan itu tempat biasa nenek buyutku bersantai sambil mengudap sesuatu makanan dan menonton TV. Aroma khas rumah kuno, dan bau-bauan khas aroma manula, kataku, lekat dalam ingatan.
Dan ya, aroma itu sesekali hanya bisa kutemui jika aku pergi ke museum yang menyimpan benda-benda bersejarah yang teramat usang. Aku juga selalu tertarik melihat sebuah termos lawas bertutup gabus kayu dan besi serta tudung saji untuk gelas yang terbuat dari kain beludru berbentuk seperti buah termemes yang dipotong ujungnya dan ditengkurapkan. Sungguh benda-benda lawas seperti itu membuatku tersihir dengan sugesti misterius rumah itu.
Sementara jendela di ruang tengah itu nyaris tak pernah dibuka sepanjang hari, bahkan setiap hari. Sebagai penerang dari ruangan itu hanyalah bohlam lampu berwarna nyala kuning temaram, mengamini keserasian udara dingin kota Salatiga dan sunyinya rumah yang tegap berdiri di depan makam desa paling senyap yang ada dalam ingatanku.
Sedang di sisi sebelah ruang tengah atau ruang makan itu adalah kamar nenek buyutku. Ruangannya cukup besar sebagai ruang tidur, barangkali setara empat kali ruang tidur kakekku atau tiga perempat ruang makan yang juga cukup luas. Dan kamar itu tak kalah misteriusnya. Aku tak pernah masuk, kalaupun lewat pasti melintas dengan bergegas.
Jendela kamar juga nyaris tak pernah dibuka, dan atmosfer ruangan lebih temaram dengan lampu bohlam kuning kemerahan mengamini perabot kayu-kayuan jati tua di dalamnya. Aroma ruangan itu pun tak kalah kuatnya. Bau khas manula bercampur rumah tua serta debu yang tak kasat mata, mungkin terlewatkan dari tangan rajin ibu-ibu tua yang biasa disewa nenek buyutku untuk bersih-bersih rumah.
Meski ditinggali, rumah itu tak kalah senyap dari rumah kosong jaman Belanda. Hingga bunyi kendaraan lalu lalang di depan jalan yang kebetulan jalan utama begitu nyaring terdengar, seolah menusuk, menembus dari pintu depan ruang tamu hingga ke dapur bagian paling belakang rumah yang bersebelahan langsung dengan makam.
Tetapi saat pagi dan sore hari, atmosfer rumah terasa lebih hangat karena ramainya pekerja pabrik tekstil di seberang jalan datang dan pulang kerja. Hiruk-pikuk jalan kota di jalanan utama, bus-bus kota dan antar kota serta kendaraan berat seperti truk pun begitu familiar melintas meramaikan jalan itu. Suasana kota Salatiga itu tak terlupa, dengan trotoar berwarna merah di tepi jalannya.
Dari pintu gerbang halaman kala itu ada taman dengan rumput yang rapi dan pohon cengkeh milik nenek buyutku yang sesekali dipanen. Bahkan sampai hari ini masih tersisa stok bunga cengkeh kering di rak bumbu dapurku dalam toples kecil sebagai kenang-kenangan terakhir hasil dari pohon cengkeh itu.
Semua berlalu dalam ingatan bocah perempuan kecil berambut tipis yang dulu kurus kering itu. Si bocah berjalan menyusuri gang di samping rumah besar tua yang kini hanya tinggal kenangan dalam ingatan. Gang itu bertembok semen, tak cukup luas tapi tak terlalu sempit juga. Sebuah keranda menjadi welcome greeting di pintu sebuah makam yang terasa dingin, sepi, dan luas itu.
Sebuah pohon trembesi besar berdiri angkuh di sisi kanan makam. Ia menatap mata bocah ingusan penakut yang memandang jajaran nisan yang seperti tak terbatas sampai belakang karena luasnya. Dan di balik tembok tua dapur rumah nenek buyutku kutemui sebuah nisan tua dengan nama yang tersurat di atasnya. Ya, itulah nisan nenek buyut (ibu kandung kakekku, saudara sepupu nenek buyutku). Terbaring abadi dalam dingin sunyi kota De Schoonste Stad van Midden-Java.
Dalam doa-doa yang bergema dari dedaunan pohon trembesi yang gugur tertiup angin, ingatan membawa pulang sepotong rindu pada kota liburan masa kecilku. Apakabar nenek buyut kesayangan? Tak pernah kutahu bahkan di mana letak nisannya karena aku tak hadir saat hari terakhirnya. Entah di sebelah kekasih hatinya atau di dekat nisan saudara sepupu perempuannya itu? Ya, sebersit ingat bahwa aku tak pernah datang ke kota itu lagi selepas nenek buyutku tutup usia.
Dan rumah itu kini hanya tinggal kenangan dalam potret lawasnya. Namun masih bisa kutemui dalam ingatan untuk dikenang melalui Google Map, dimana bangunan itu kini telah alih fungsi menjadi sebuah klinik setelah rumah itu dijual.
Damai di surga kesayangan dari kisah masa kecil. 🍂
Comments
Post a Comment
thanks,