Apakah Hujan yang Salah?
Dari sebuah kedai bakso di kotaku.
Hari itu hujan turun sedari siang begitu deras, sempat menyurutkan kerajinan manusia untuk melakukan aktivitas dan rutinitasnya. Tapi sorenya, semesta serasa memberi ruang bagi kaum pemalas seperti ku untuk tidak lagi memiliki pembenaran atas kemalasannya absen pergi ke gereja. Ya, jelang jam berangkat hujan reda dan tinggal rintiknya saja.
Dan aku pergi misa di gereja kesayangan, tempatku dibaptis. Alasan sederhana yang sering kukatakan dalam hati, selain aku suka suasananya hehe, homilinya tidak membuat pemalas seperti ku mengantuk haha ✌🏼.
Misa selesai dan aku pulang sembari mampir menemani temanku mencari kain untuk saringan tahu pesanan ibunya. Dan kami menyambangi sebuah toko kain yang tampak murung hari itu karena sepi pengunjung yang diamini hujan. Pekerjanya cukup banyak bagiku untuk sebuah toko kain yang luasnya tak seberapa bagiku. Mereka tampak bergerombol lesu, bermalas-malasan sembari ngerumpi, atau ada yang merebahkan kepalanya di antara tumpukan kain seperti mendeskripsikan kelelahan beban hidup yang sulit didustakan.
Hanya seorang yang sigap menyapa kami dan berdiri menanyakan, “Cari kain apa?” lalu mengajak kami naik ke lantai atas untuk melihat koleksi kain yang barangkali sesuai ekspektasi kami. Dari tumpukan gulungan kain diambilah satu yang sesuai kriteria setelah membandingkan, dan kami membelinya satu meter saja. Lalu pergi membayar ke kasir.
Sembari menuruni anak tangga, kulihat di meja kasir sederet patung berdebu dewa-dewi sesuai kepercayaan pemilik toko dipajang di antara koin-koin apa yang tak kukenali. Atmosfer ruangan terasa penuh bagiku, selain memang penuh gulungan kain, juga pemandangan baru saja. Kutepis itu jauh-jauh dengan gumamku dalam hati, “Baiklah, itu keyakinan mereka.”
Kualihkan pandanganku pada banyak motif kain yang menarik untuk kubayangkan menjadi sebuah pakaian yang dijahit. Ya, cuaca membuat bisnis lesu. Suasana ekonomi dunia yang memang sedang lesu meski selepas libur nataru bahkan semakin lunglai, diamini hujan yang turun. Pikiranku bergumam mempertanyakan bagaimana toko-toko itu bertahan hidup dan membiayai pekerjanya yang sebanyak itu. Penjualan yang berhasil dicetak tak seberapa, beban operasional terus berjalan setiap hari, dan tak setiap hari juga orang beli kain. Ditambah lagi pesaingnya juga banyak toko serupa di daerah itu. Semua kalkulator logikaku tampak terasa tak berfungsi untuk berhitung, mengkalkulasi fakta yang kulihat itu.
Dan kembali ke kedai bakso ini. Penghujan bukankah ladang kesukaan pedagang bakso, di mana dingin selalu bersanding hangat dengan semangkuk bakso yang selalu rindu pada penikmatnya, bukan? Tapi faktanya malam itu tidak juga. Empat lagu selesai kuputar dari playlist Spotify ku sembari menyantap bakso dan melamun di tengah hujan yang masih turun. Dan tak ada pembeli lain datang di kedai itu bahkan sampai akhir.
Barangkali orang enggan keluar rumah untuk mencari kehangatan, mungkin pikir ku. Barangkali juga stok mi instan sudah menjadi substitusi praktis sumber kehangatan lain. Atau fasilitas layanan ojek online menjadi pilihan lain untuk menikmati kehangatan dan kepuasan lain di saat hujan. Tapi faktanya di kedai bakso itu juga ga ada abang-abang ojek online yang mampir membeli selama aku di sana.
Ku habiskan waktuku hanya dengan melamun, memikirkan realitas usaha orang dan sesekali pada ingatan tentang manusia yang kupikirkan sesuai tema playlist Spotify ku itu. Hujan, sepi bisnis, dan kerandoman ingatan bertemu dengan masing-masing rindunya. Semua memiliki jenis deskripsi rindunya. Rindu berubah menjadi pemandangan sunyi yang berisik tak bersuara.
Jika hujan adalah penyebabnya, apakah hujan menjadi salah diturunkan? Tapi hujan diturunkan sebagai keseimbangan alam untuk memulihkan bumi yang kekeringan. Jadi apa penyebab rindu itu? Barangkali bukan cuaca, tapi kebutuhan, itulah jawabnya.
Ya, aku rindu karena butuh greget homili agar aku bisa merasakan kehidupan iman. Kebutuhan orang atas kain yang membuat toko-toko kain merindukan keramaian penjualan, dan kebutuhan atas kehangatan dari semangkuk bakso saat hujan untuk menjawab rindu kedai bakso yang sepi di tengah hujan.
Pada rindu ada kebutuhan. Kebutuhan itu tentu dibangun dari dua arah, baik yang penerima maupun yang memberi rindu. Bentuk usahanya seperti promosi, publikasi dan komunikasi.
Comments
Post a Comment
thanks,