Laguna Glagah







Pagi cerah datang dengan segala harapannya, mengganti malam dengan hari baru dari Tuhan. Pergi, menikmati apa yang bisa seperti melihat betapa indahnya kasih pada dunia. Hamparan air dikelilingi pepohonan rindang selalu menjadi tempat tenang untuk memahami waktu. Di desa Glagah, Kecamatan Temon, kabupaten Kulonprogo kutemukan laguna dengan airnya yang tenang meski terisolasi pepohonan. Cantik kehijauan seperti batu zamrud yang berkilau karena cahaya matahari, seakan tersenyum memandang semua mata yang datang tanpa bisa untuk tidak mengaguminya.

Musim penghujan sering terdengar rumit, tetapi selagi jeda dan airnya tak lagi turun adalah waktu terbaik untuk melakukan perjalanan. Panas matahari tak begitu terik, udara jalanan juga terasa lebih sejuk, pun kadang diamini sisa hujan jika masih ada, menjadi penghias jalan yang rindu disapa dingin. Kebetulan hari itu hari biasa di bulan puasa, dan barangkali hiruk pikuk tak terlalu terasa karena senja berbuka pun belum tiba. Jalanan desa yang tak terlalu sepi, tapi juga tak sesibuk kota, menjadi pemandangannya. Sesekali berjumpa dengan para pekerja proyek dan alat beratnya, karena kebetulan saat melintas sedang ada proyek perbaikan aspal di beberapa titik jalan di Kabupaten Kulon Progo. Meski sebenarnya berdebu, tetapi penghujan menyembunyikan lelahnya hingga tak terlalu menyesakkan.

Sampailah aku di desa yang kutuju itu. Letaknya tak jauh dari landasan pesawat Bandara Yogyakarta Internasional Airport, dengan hamparan tanah berumput pendek yang cukup terawat serta berpagar kawat, menjadi dinding pemandangan sepanjang jalan sebelum masuk area TPR. Harga sepuluh ribu rupiah per orang dipatok untuk memasuki area itu. Tentu menjadi nilai yang relatif, tergantung bagaimana kita bisa memaksimalkan menikmati sebuah kesempatan di daerah yang dijadikan destinasi wisata.




Jika kamu lebih suka pada air yang datang dan pergi dengan bebas, kamu bisa langsung menuju area pantainya (Pantai Glagah). Tetapi jika kamu menyukai duduk tenang atau berjalan serta menikmati keindahan yang mendalam, barangkali daerah perairan dangkal yang terisolasi oleh laut menjadi pilihan menyenangkan untuk ditemui. Rindang pohon cemara berjajar di tepi permukaan tanah yang subur dan tertutup rumput. Tampak juga beberapa rumah papan dari kios warung penjaja yang kebetulan tutup karena bulan puasa. Ya, barangkali wisata sedang berjeda untuk beristirahat dari hiruk pikuknya wisatawan sebelum bertemu kembali hari sibuknya, yaitu Hari Raya Lebaran, yang menjadi perayaan kebahagiaan keluarga yang telah berjarak sekian waktu.

Di saat hari itu tiba, tentu laguna akan dipenuhi gelak tawa dan mata yang bercengkrama melepas rindu serta menghabiskan waktu dengan euforia liburannya. Tetapi aku yang selalu jatuh cinta pada sepi dan ketenangan, bertemu di waktu yang tepat untuk mengenal tempat indah itu. Di awal tempat yang kudatangi, sejauh mata memandang setelah rindang pohon-pohon cemara, dapat kulihat air tenang yang tergenang dipisahkan pasir pantai, lalu terlihat lagi air dan dipisahkan pasir lagi, menjadi batas cakrawala pandangan. Sementara di tempat kakiku berpijak, ada dedaunan enceng gondok tumbuh merambat sebagai penahan abrasi batas tanah dan air itu.






Masih di bawah rindang pohon pinus, aku berjalan kaki terus ke arah timur dan kutemui daerah yang lebih hijau dan tentu lebih rindang. Di tepinya ada sederet bunga kertas tumbuh liar menghiasi area monoton dari hijaunya rumput. Selain bunga kertas berwarna merah dan kuning, terlihat juga senyum sumringah bunga matahari mencuri hati untuk didekati. Wajahnya segar, lebih bahagia dari bunga yang sama yang pernah kutemui di daerah Srandakan dan juga yang kutanam di halaman rumah. Barangkali udara bebas serta sinar matahari penuh tak terhalang adalah syarat kebahagiaan untuk vegetasi dan sebuah kebebasan untuk mereka bertumbuh lebih natural dan ceria warnanya.

Hal serupa juga terlihat dari bunga jengger ayam yang lebih besar dari yang biasa kutemui di daerah lain maupun yang pernah kutanam di rumah. Bunga di daerah itu lebih berwarna merah cantik dan juga lebih besar. Sedangkan bunga tapak dara putih, aster ungu, serta anggrek tanah juga ada, hanya saja sama seperti di tempat lainnya sehingga tak terlalu berbeda tampilannya untuk diceritakan. Di dekat banyak bunga itu, sesekali aku bisa melihat jelas pesawat yang akan mendarat atau tinggal landas di Bandara YIA, melintas menjadi hiburan receh kesukaan anak-anak kecil tentunya.

Tetapi sedikit disayangkan, area yang indah tak selalu setiap lekuknya menawan. Karena di balik bunga-bunga itu ada hamparan pasir pantai berwarna hitam yang tampak sedikit kotor karena berserakan patahan ranting pohon dan potongan bambu-bambu yang entah datangnya dari mana. Mungkin terbawa arus saat laut pasang atau juga akibat ulah tangan manusia yang kurang bertanggung jawab. Kuharap suatu saat pada bagian lekuk indah laguna itu juga bisa mendapatkan perhatian yang sama seperti yang lainnya.

Setelah mengambil gambar dan menuntaskan euforia berfoto di bagian itu, aku lalu bertolak lagi ke sisi barat menuju laguna yang sesungguhnya. Daerah yang lebih luas dengan rerumputan yang lebih subur. Di depannya tampak membentang indah jembatan yang terbuat dari bambu, terpasang di atas air seolah membagi dua bagian laguna, sisi timur dan barat. Sisi timur terlihat lebih banyak tertambat perahu kayuh, kano, dan sampan kecil, sedangkan sisi baratnya adalah bagian yang lebih sepi dan tenang tetapi tetap menakjubkan. 






Tempat itu menjadi surga bagi para pecinta hobi memancing untuk sanggup berlama-lama menunggu harapan kecil mereka mendapat ikan. Sayangnya, aku yang sedikit penakut tak terlalu yakin dengan kekuatan jembatan bambu itu karena terlihat berongga, kurang rapat, dan berjarak, mengamini rasa percayaku yang tipis untuk mencoba melintas. Tetapi kulihat ada dua orang pemancing berjalan melintas jembatan itu dengan santai. Entah karena mereka tahu cara berjalan aman atau memang jembatan itu kokoh meski terlihat kurang meyakinkan. Yang jelas, bunyi gemeretak dari bambu yang tampak usang itu akan menemani siapa pun yang berani menapakinya.




Meninggalkan ekspektasi untuk menyusuri jembatan bambu, aku berjalan kembali ke arah barat dan tibalah pada bagian terindah laguna. Tempat yang lebih sepi, tenang, lebih rindang, dan lebih alami. Dengan pemandangan sebuah pulau mungil yang seakan terapung di tengah laguna. Pulau berwarna zamrud dengan rumput yang terlihat begitu nyaman dari kejauhan membuat fantasiku ingin berlari dan menyelam lebih dalam hanya untuk mengaguminya. Tetapi fantasi itu menjadi janji yang mungkin akan terwujud suatu hari.



Saat ini aku hanya bisa takjub sembari mensyukuri memiliki waktu untuk melihat semua itu. Sekali lagi, ada yang tak terbeli oleh uang, yaitu waktu dan kesempatan untuk merasakan. Segala keindahan yang tak akan pernah cukup untuk dikatakan saat mengagumi ciptaan Tuhan.



Laguna Glagah, selalu menarik untuk diceritakan. Nama Glagah sendiri berasal dari tumbuhan liar seperti tebu bernama gelagah yang dahulu banyak tumbuh di daerah itu. Namun belum sempat ku jumpai apakah vegetasi itu masih ada atau hanya tinggal cerita. Menjadi bagian menarik untuk dieksplorasi lebih jauh dari sejarah hingga potensi alamnya.

Jika ingin menikmati lebih lama, kamu bisa berkemah di daerah itu. Di sana tersedia persewaan tenda dan peralatan camping. Menyusuri laguna dengan perahu juga menjadi pilihan menarik dengan tawaran harga terjangkau.


Gardu Pandang YIA, Kulon Progo





Sebelum jingga senja datang, singgah sebentar untuk melihat pesawat yang akan lepas landas atau mendarat menjadi pilihan. Bangunan sederhana dari bambu itu tak dijaga, hanya tersedia kotak kejujuran. Tempat ini sederhana, tetapi menyimpan makna tentang perjumpaan dan perpisahan.



Seusai itu, aku menuju pantai. Hari sudah sore, tetapi jingga belum sepenuhnya hadir. Pantai sederhana dengan pasir hitam dan ombak yang biasa saja. Namun tetap menyimpan refleksi perjalanan.

Ada yang harus dilepaskan, bukan dilupakan. Untuk melepaskan dibutuhkan keberanian untuk merelakan. Karena dalam hidup, akan selalu ada yang datang dan pergi. Semua itu berkat sekaligus pelajaran.



Glagah, terima kasih telah meminjamkan keindahanmu untuk bercerita.


Comments