Becak Motor Jogja
"Dulu dikayuh pada jamannya, sekarang digas untuk tetap ada."
Pagi itu dari meja kosong depan cafe yang tak lagi beroperasi, parkir dan tempat duduk gratis teduh dalam naungan atap, kunikmati Jogja. Sembari menikmati jajanan dari pasar tradisional yang murah meriah, mataku tertuju pada depot gudeg Bu Djuminten yang sedang ramai dikunjungi deretan becak-becak motor, tuk mengantar wisatawan domestik mampir membeli gudeg sebelum mengakhiri liburan Lebarannya. Sinergi yang saling menguntungkan dari geliat pariwisata kota, depot gudeg dengan masakannya yang dijaja, dan becak-becak motor dengan jasanya mengantar ke pusat oleh-oleh khas Jogja.
Konon ceritanya si pembawa wisatawan akan mendapat imbalan atas jasa pengantarannya tak hanya dari wisatawannya, tapi juga dari beberapa tempat jualan oleh-oleh. Menjadi hal lumayan untuk menanti rejeki para becak-becak motor menutup biaya operasionalnya dari pendapatan itu. Karena becak di masa kini tak lagi dikayuh dengan kaki, tetapi dengan motor yang memerlukan bahan bakar, biaya modifikasi motor berbodi becak, serta berbagai biaya perawatannya.
Tentu jasa transportasi ini lebih sesuai mengingat jarak tempuhnya tak lagi dekat, dan riuhnya jalan serta waktu tempuh tak lagi efisien untuk dikayuh tenaga manual fisik manusia. Adapun karena becak tak lagi bergerak lambat karena sekarang ia bermotor, maka syarat keamanan pun menjadi diberlakukan. Pengemudi becak kini harus menggunakan helm, bukan lagi topi atau caping sebagaimana dalam potret lawasnya.
Comments
Post a Comment
thanks,