Membeli Keberuntungan Dekat Palang Kereta

Malam belum larut dan menyusuri kota adalah kegiatan menyenangkan melihat bagaimana dunia di luar sana sedang bekerja. Malam tadi di dekat sebuah palang kereta yang sedang terus menerus terbuka dan tertutup lebih sering tak biasanya. Jalanan jadi semakin ramai. Kulihat sekelompok pecinta vespa melaju dengan warna-warni dan kemeriahannya. Sementara antrian mulai panjang akibat palang kereta yang katanya entah rusak atau tidak. Karena masyarakat disekitarnya bilang sedari tadi palang terus menerus buka tutup terlalu runtut. Tapi kuperhatikan di jam itu memang kebetulan kereta juga memang lewat sesering itu. Dan baiklah ga ada salahnya kalau palang tetap berfungsi sebagaimana mestinya dari pada mengundang korban tertemper kereta karena buru-buru melintas. Sementara tujuanku adalah pergi menemui mbak-mbak penjual sate panggul Madura yang ada di tikungan dekat flyovernya. Rupanya antrian palang kereta itu membuat beberapa orang menepi mampir membeli juga. Ah barangkali memang lagi rejeki buat si mbaknya atau memang tujuan mereka juga sama dengan ku, yang hendak makan sate. Harga yang lumayan murah disela ekonomi yang sedang berdarah. Sepuluh ribu untuk sekitar tujuh tusuk sate dengan lontong bumbu yang manis dan serasi disajikan dengan sambalnya. Cukup mengenyangkan dan murah meriah mungkin menjadi selera banyak orang juga. Kadang kupikir bagaimana dia bisa menjual makanan dengan harga yang masih bersahabat ya? Karena sebagai perempuan yang juga memasak, sate termasuk jenis masakan dengan keribetan yang lumayan. Dari effort untuk memotong - motong ayam, lalu menusukkan ke lidi, menyiapkan bumbu kacang, membuat sambal, menyiapkan arang, membakar sate dan sederet kegiatan membuat lontong yang dibungkus daun pisang. Tentunya tidak dalam sekejap ya kan? Tapi si mbak mungkin melakukan semua itu dengan lebih cepat. Proses pre cook yang berulang dan sudah menjadi kebiasaan sebab dia sudah lama berdagang sate setiap harinya, membuat dia sudah tau bagaimana melakukan semua itu secara efektif dan efisien. Harga yang masih bersabat tentu tak bisa dibandingkan dengan harga sate dekat rumah yang mangkal di kedai. Ya karena kalau di kedai, penjual harus merogoh kantong lebih untuk membayar sewa tempat sebagai lapak untuk berjualan. Kalau dipikir yang dijual sama juga, tapi hasil bisa berbeda-beda. Selain kualitas masakan semua juga tergantung faktor keberuntungan rejeki, yang diamini situasi kondisi, tempat, bahkan selera yang bertemu dengan waktu itu tadi. Seperti yang terjadi pada si mbak yang cukup banyak pembelinya akibat antrian panjang palang kereta. Tak jauh dari mbak penjual sate panggul Madura ini ada penjual kaki lima lain yang mengisi sebagian dari trotoar jalan serta berbagi ruang dengan pejalan kaki. Ada angkringan, penjual siomay, penjual bakwan kawi dan penjual rokok. Wajah ekonomi kota di sajikan di bawah remang lampu jalan yang temaram. Kadang mereka mungkin harus berhadapan dengan kebijakan dan pengaturan tata ruang kota, sama seperti penjual kaki lima di tempat lainnya. Itulah serba-serbi kota dimana kita bisa belajar bagaimana rasa, cara, dan selera. Ada hasil yang tak seberapa tapi memiliki jaminan aman yang lebih pasti seperti contoh kedai sate dekat rumah. Ada pula hasil yang cukup lumayan di kelasnya tapi rawan digerus aturan kebijakan dan penataan ruang sehingga lapak berjualan harus sewaktu-waktu siap berpindah. Barangkali memang benar dunia sering bekerja dimana high risk high return, dan pilihlah yang paling bisa dijalani atau jalani yang bisa dipilih.

Comments