Nostalgia Ngebakso
Ingatanku kembali pulang di beranda teras depan rumah masa kecil ku. Pak Jliteng bukanlah laki-laki tampan seperti Kim Woo Bin dalam kacamata bocah kecil berambut keriting yang kurus kering waktu itu. Tapi kehadirannya akan selalu ditunggu, karena barangkali ibuku atau nenekku akan memberiku uang Rp. 250,- untuk membelinya. Hal paling menyenangkan membeli bakso keliling adalah mengamati si Bapak meracik bakso di mangkuk. Jiwa pasaranku akan meronta-ronta setiap kali membelinya, seolah membayangkan aku adalah penjualnya. Selain keseruan melihat penjual meracik bakso yang kuingat adalah bakso gorengnya. Material dalam komposisi semangkuk bakso yang jadi favorit ku. Dari situlah aku belajar dan menjadi pecandu makanan keras. Tapi seiring usia kecanduan ini sudah berkurang karena adaptasi kempuan gigi. Bakso goreng biasa dibuat dari material mie yang hari itu tidak habis dicampur dengan tepung lalu dibulatkan dan digoreng. Rasanya micin maksimal enak sekali. Dari itu juga aku punya definisi kalau micin itu enak haha. Sampai hari ini aku sering diejekin kakakku kalau aku bocah si pemakan micin hahaha. Dan dari bakso aku belajar makan sambal dan jadi penyuka penikmat rasa pedas. Sambel bakso ditambah micin selalu jadi rasa ter the best dalam ingatan bocahku sampai hari ini.
Selain Pak Jliteng ada juga bakso Tik Tok (jauh sebelum aplikasi joget-joget itu ada). Bakso Tik Tok adalah bakso yang di jaja dengan dua kotak kayu yang berisi dandang+anglo dan material pelengkap bakso yang dipikul di pundak dengan menggunakan bilah bambu atau rotan yang sangat kuat dalam keadaan yang seimbang bak timbangan. Ya harganya Rp. 150,- saat itu. Wow banget ya kalau dibandingkan dengan harga bakso saat ini yang dibanderol Rp. 15.000 lebih. Andai mesin waktu itu ada ingin banget rasanya bawa duit Rp. 50.000,- ke masa itu dan aku akan makan bakso sepuasnya. Pasti aku akan jadi manusia favorit para penjual bakso tentunya haha! Oya aku salut sekali pada penjual bakso Tik Tok. Karena mereka berjalan kaki memikul lemari bakso yang berisi full material, dandang besar berisi air kuah bakso yang sangat panas dan anglo, kurasa selain sangat sehat karena terbiasa olahraga angkat beban mereka juga pasti kuat tak diragukan lagi. Bicara bakso dalam ingatanku adalah sebuah potret masakan dimana dalam semangkuk yang bergambar ayam jago berisi bakso, tetelan, irisan tahu coklat, bakmi basag kuning homemade atau kombinasi bihun (pada bakso Tik Tok), rajangan sawi caisim dan bakso goreng serta ditaburi toping bawang goreng dan seledri yang berendam dalam kuah kaldu selera micin lover. Tapi seiring jaman bakso sudah banyak bergeser eksistensi kelengkapannya. Kini beberapa hanya tinggal kuah kuah micin, rajangan sawi, sedikit bawang goreng dan seledri dan mie kering yang sudah diseduh yang digunakan. Citarasa otentik dan pesona lawasannya hilang dengan keabsenan irisan tahu coklat, mie basah kuning, dan bakso goreng perompal gigi hihi. Kini yang masih tersisa adalah berlomba-lomba kemeriahan kuantitas tetelan (potongan lemak/ koyor) sebagai penarik hati menggaet para penikmat bakso yang sejenak lupa kolestrol. Di Yogyakarta sendiri bakso dengan citarasa otentik lawasan kian jarang. Yang aku ingat ada di kedai bakso dekat flyover Janti dan kedai bakso selatan pasar Colombo depan seminari Kentungan di Jakal.
Inflasi membuat nostalgia semangkuk bakso menjadi benar-benar kenangan dan ingatan manis tak terlupakan. Kini bakso dibanderol kisaran Rp. 15.000,- up. Kemanapun aku pergi aku selalu ingin menikmati jenis makanan ini di berbagai kota. Dan memang setiap kedai akan memberi pengalaman untuk merasakan ingatan detail citarasa yang berbeda. Dan rasa itu melekat nikmat seperti rasa yang pernah ada 😂. Saat di perantauan dulu di ibukota salah satu bakso favorit adalah bakso babi B2 yang dijaja di depan kapel samping kantor biasa aku pergi misa selain di gereja dekat Matraman. Rasa bakso babinya tiada dua dan belum kutemukan pesaingnya. Sayangnya bakso itu hanya dijual saat hari Minggu selepas misa dan penjualnya adalah umat kapel itu. Selain bakso B2 itu bakso langgananku adalah di tikungan flyover kampung melayu dari arah jalan Otista ke arah jalan Abdullah Syafei. Kalau bakso itu mungkin hanya menyuguhkan kenangan makan dengan siapa tapi untuk rasa bukan dalam kategori otentik lawasan seperti bakso di masa kecil. Sementara itu kalau di sekitaran rumahku tinggal aku belum menemukan bakso yang membuat ku bisa jatuh cinta dan merindu. Adapun yang lewat depan rumah adalah jenis bakso Malang yang lengkap dengan ciri khasnya pangsit, gulungan mie kuning, dan siomaynya. Tapi bakso goreng absen untuk bakso yang dibanderol Rp. 10.000,- ini. Dan juara citarasa bakso goreng dalam kategori bakso Malang dalam ingatanku bisa di temukan di perempatan Gramedia Jogja saat siang hari jika masih ada. Mari temukan citarasa bakso favorit mu, mari menulis cerita dalam mangkuknya hingga suatu hari semua akan menjadi nostalgia di setiap suapannya.

Comments
Post a Comment
thanks,