Candi Ijo di Cermin Hujan
"Terjebak hujan di Candi Ijo"
Eksotis bebatuan berlumut menyambutku datang, dalam alam yang tenang ia menyimpan kenangan yang memintaku untuk melangkah menyusuri rerumputan pada sepinya candi yang tampak begitu sunyi tak berpenghuni, samar-samar wangi dupa disela diam menusuk hidungku mengundang pesona magis di sudut lapang, sementara dua pasang kaki menyusuri sebersit anginpun meniup menyelinap menuntun kami menuju gasebo mungil dengan gunung Merapi sebagai background di belakangnya. Disela kagumku melongok diantara bebatuan candi, gemuruh rupanya menikam sepi menandai hujan segera menghampiri, kamipun berlari menyelamatkan diri sembari sibuk membuka payung mungil berwarna pink yang begitu ringan disapu angin. Dan seolah memang gasebo mungil itu tersedia untuk menguji, hati yang lapang, pikiran yang tenang dan jiwa-jiwa penuh ketaatan diantara nyali, gigil, dinginnya angin menyapu basah sebagian pakaian yang terkoyak hujan dan menghebat itu. Di depanku disuguhkanlah tegap berdiri pohon bunga kamboja menambah wingit langit-langit candi dalam suasana yang terpingit, lalu imanku mulai goyah segenggam nyali berubah menjadi ngeri. Dalam doa tak henti-hentinya kupinta reda, tapi aku tak kuasa ditikam sunyi dengan berbekal nekat kutinggal pergi meski derai hujan masih sibuk membasahi baju dan juga kaki. Ya aku tak lagi peduli karena hati sudah tak bisa di negosiasi untuk berani.
"Langit Kelabu Candi Perwara (Candi Ijo)"
Belum puas tuk mengunjunginya, barangkali di lain kesempatan bolehlah aku melihat lebih detail dari teras ke teras tanpa tersandera oleh cuaca hujan. Kuawali berjalan dari teras ke VIII. Langit waktu itu cerah udara sejuk mempesona mata melihat hamparan rerumputan diantara puing reruntuhan candi yang masih terserak dalam setiap kelompoknya di komplek Candi Ijo yang berundak dan terdiri dari 11 teras. Adapun candi utama terletak di teras tertinggi (teras ke-11) sementara lainnya tersisa ada yang masih utuh ada yang berupa puing-puing reruntuhan. Menjadi perhatian bagiku, karena begitu disayangkan papan petunjuk tentang layout komplek candi kenapa dipasang di teras tertinggi sehingga kurang menginformatif pengunjung yang datang tanpa gaet untuk mengetahui lebih dahulu harus kemana mendapatkan alur cerita yang runtut dan utuh sedari awal datang di lokasi. Alangkah baik seandainya papan petunjuk layout bisa dipajang di dekat pintu masuk tepatnya di dekat kios pembelian tiket. Sebab hujan turun begitu hebat dan aku belum sempat mencari juga candi dengan prasasti yang dikenal akan mantra kutukannya, karena hujan deras hari itu sempat membuatku terhenti keluar komplek dan melanjutkan ke candi utama selepas hujan serta destinasi lainnya. Diantara genangan air hujan di rerumputan ketinggian teras ke-11 kurasakan aura kuat magis mengamini di sela angin aku tersugesti melihat sesaji di ujung depan candi utama.
"Senyum Manis Nandini di Bilik Candi Pewara"
Sebuah arca lembu Nandini, di candi pewara Candi Ijo (tengah). Dalam bahasa sansekerta Nandini berarti "menyenangkan", dan nama itu sering diadopsi dalam nama anak perempuan jawa Andini berarti "penurut" sedang dalam kepercayaan Hindu, Nandini adalah lembu betina (kendaraan Siwa) yang dikenal tidak penakut. Kata Nandini juga familiar digunakan di nama perempuan India. Begitulah kepercayaan dan alkulturasi budaya saling diadopsi dan diaplikasikan hampir serupa di tempat yang tentunya berbeda-beda sejak jaman Mataram Kuno.
Oya jika kalian ke sana selepas hujan deras entah kenapa helaian rambut dikepala kita bisa terangkat beberapa seperti jika kita menggosok dengan penggaris mika yang kemudian ditempelkan ke rambut dan ada listrik statisnya. Hanya saja di sana terjadi begitu saja di sekitaran mendekati candi utamanya, mungkin barangkali ada penjelasan ilmiahnya yang boleh dipelajari lebih lanjut. Di teras utama 11 ini terdapat juga 3 candi perwara yang menghadap candi utama untuk fungsi pemujaan Trimurti (Brahma, Siwa, Wisnu) dalam kepercayaan agama Hindu. Sementara di dalamnya terdapat arca Nandini dan Lingga Yoni (simbol perempuan dan laki-laki) yang banyak dijumpai sebagai ciri khas candi bercorak Hindu. Terlupa waktu sehingga tak sempat untuk menceritakan setiap detailnya yang tentunya begitu menarik dari indahnya Candi Ijo. Mari mengkoleksi random puzzle visual sejarah dan temukan ceritanya tuk saling diceritakan di diary kita masing-masing.
Salam hangat pecinta sejarah, budaya dan cerita-cerita kehidupan.
Comments
Post a Comment
thanks,