Membeli Keberanian di Pesona Perawan Watu Lumbung

Selembar catatan perjalanan akhir tahun. Gerimis mengantar kami dari singgah sejenak di Desa Bandungan menuju jalan setapak di Dusun Ngelo, Desa Balong, Kecamatan Girisubo, Gunung Kidul. Ya, kami berenam (perempuan semua) sejenak menjauh dari kebisingan kota untuk camping dadakan. Semula kami bermaksud untuk camping di Pantai Wediombo, tetapi atas rekomendasi penduduk setempat yang katanya pantai tersebut kurang bersahabat, kami pun akhirnya meniti jalan setapak yang justru jauh lebih tak terduga. Minim penerangan dengan jalan terjal jauh dari permukiman warga. Adapun jalan menuju ke sana sedang dalam tahap pembangunan, masih banyak yang berlumpur dan tidak rata. Meski sedikit ragu karena hari sudah semakin larut sore, kami tetap membulatkan tekad untuk camping.

Ya, kami sampai di sebuah bukit yang sepi dari warga. Bukit di atas Pantai Watu Lumbung dengan panorama hijau di sekelilingnya. Kemudian kami mendirikan tenda, mencari kayu, dan menyalakan api unggun untuk berdiang serta membakar arang untuk memasak bekal makan malam kami. Dengan peralatan seadanya kami membuat ayam bakar, dan pisang bakar (panggang). Beruntunglah kami sempat membeli semangka untuk melengkapi bekal kami, karena air minum kami tidak terlalu banyak. 
Cukup nekat camping dadakan kami, karena sedang musim penghujan. Ya, malam hari kami bertahan dalam tenda oleh deru angin dan hujan di sekitar pantai. Cukup cemas tetapi tetaplah aman karena kami ada di bukit.
Esok pun tiba, langit berwarna kelabu. Tidak ada sunrise ala pantai yang bisa dinikmati. Sedikit hujan kecil, kami sebagian turun berjalan kaki dari bukit menuju pantai untuk jarak lumayan dan kemiringan yang membuat kami ngos-ngosan. Jalan berlumpur membuat sandal kami menjadi tebal, dan kami melanjutkannya dengan bertelanjang kaki.
Tetapi potret cantik surga biru yang tersembunyi membayar mahal lelah kami. Pantai yang masih cukup perawan, sepi, bersih, dengan karang yang besar dan ribuan kulit kerang di pesisirnya. Sejenak berjalan dan berbincang dengan dua orang pemancing di pinggir karang. 
Bicara soal memancing ikan jelas aku bukan ahlinya. Dan jauh dari kata ahli sedikit bisapun tidak, bahkan terpikir untuk melakukannya pun tidak. Aku sama sekali tidak bisa menikmati nikmatnya memancing, karena bagiku kegiatan yang dilakukan hanya menunggu keberuntungan barangkali ada ikan datang menghampiri kail dan itu seperti membeli kesempatan 1:1000. Apalagi di lautan lepas, beda cerita kalau di kolam ikan pemancingan sih. Tapi ini fotoku sedang memancing. Iya benar, itu aku. Saat bermain ke pantai Watulumbung aku bertemu dengan kakak-kakak Mancingmania. Bukan lagi kail kecil untuk memancing di pinggir sungai, ini di laut bebas dengan ombaknya yang hebat. Berkenalan dengan mereka dan diajaklah menyusuri karang. Dan kamipun berdiri di pinggiran karang (di foto tampak landai, aslinya curam karang pijakanku), menepis ombak yang kian meninggi seiring waktu jam pasang surutnya, sedikit ngeri bagiku yang fobia air tapi sok coba-coba main dekat air haha. Dan ternyata alat pancing yang mereka pakai itu cukup berat, jadi kalau dibilang memancing dan bersantai agaknya aku kurang setuju. Yang ada adalah memancing, menahan beban alat pancing, dan membunuh fobia air laut serta ketinggian. Haha akhirnya aku merasakan juga hobi sebagian kaum adam yang katanya begitu asik dan santai itu (baca: nggak ada santai-santainya aslinya). Oya kakak-kakak Mancingmania itu selain datang dengan perlengkapan pancingnya mereka juga mengenakan sepatu karet yang khusus digunakan sehingga dengan lincahnya mereka melompat dari karang ke karang. Tak hanya berbekal sabar tapi juga nyali untuk punya hobi mancing di lautan. Sementara aku hanya bertahan di beberapa karang yang mampu kusambangi saja. Ya begitulah hobi adalah kecintaan tak bertepi, mereka memancing ikan di laut bebas, dan kalau aku sih mancing perbincangan sajalah, sekedar nambah teman untuk menuliskan cerita tentang pengalaman-pengalaman kecil tak terlupakan ini. 🐟🐟🐟

Singgah sejenak memotret, berjemur di batu karang, serta membeli mahal pengalaman memancing (memegang alat pancing) di laut lepas yang barangkali ini pertama dan sekali seumur hidup tentu sangat menyenangkan. Kemudian kami menanjak lagi untuk kembali ke tenda dan menikmati pagi sebelum ke Wediombo.


Comments

Popular Posts