Coretan Siangku di Malioboro dan Melukis Wajahnya dari Waktu ke Waktu
Malioboro, siapa sangka dulu hanya ruas jalan sepi dengan pohon asam di kanan kirinya. Di zaman pemerintahan kolonial Belanda dibangunlah Benteng Vredeburg (arti: Benteng Perdamaian) pernah menjadi markas Batalyon 403 tahun 1970, dulunya bernama Rustenburg (arti: Benteng Peristirahatan) kemudian meramaikan kawasan itu, menyusul dibangun Dutch Club, De Javasche Bank (sekarang BI), kantor pos, dan sebuah perusahaan asuransi zaman kolonial Belanda, Nederlandsch-Indisch Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij/Nillmij (sekarang BNI 46, dan pada zaman penjajahan Jepang sebagai kantor radio Hoso Kyoku). Pun kawasan Malioboro semakin berkembang dengan aktivitas perdagangan orang Tionghoa melalui perkampungan Ketandan serta dibangunnya Pasar Beringharjo (dalam potret lamanya semula adalah hutan beringin).
Jogja, santun dan berfilosofi dengan Malioboro sebagai garis lurus imajiner Merapi – Tugu – Keraton – Pantai Selatan, menuangkan filosofinya melalui penamaan jalan yang saling berhubungan. Berawal dari Tugu (bentuk asli golong gilig/silinder berpucuk bulat sebagai simbol pemersatu) kemudian berubah bentuk menjadi seperti sekarang sebagai simbol persatuan antara manusia dan Tuhan (manunggaling kawulo Gusthi). Untuk mencapainya melalui filosofi jalan Pangurakan (dari Keraton ke titik 0 km) yang bermakna harus menyingkirkan hawa nafsu duniawi/kejelekan untuk menjadi mulia sesuai nama jalan Margo Mulyo (dari 0 km sampai Kepatihan/kantor Gubernur) dan ditempuh dengan cara menjadi wali Tuhan melalui filosofi nama jalan Malioboro (dari Kepatihan/kantor Gubernur sampai Stasiun Tugu). Mali asal kata dari wali, dalam bahasa Jawa huruf w luruh/perubahan dari objek/kata benda “wali” menjadi predikat/kata kerja “mali”. Sama halnya contoh kata “wadon” (kata benda, arti perempuan) menjadi “madon” (kata kerja, main perempuan). Sedang “boro” asal kata dari “ngumboro”/pengembaraan. Sehingga untuk mulia harus melewati tahap menjadi wali Tuhan yang mengembara (melalui pencarian). Yang selanjutnya menuju jalan keutamaan dengan menjadi “manusia utama” yang mempunyai ciri-ciri kebaikan utama tersirat dalam filosofi nama jalan Margo Utomo (jalan sepanjang Stasiun Tugu ke Tugu/Jalan Mangkubumi) menuju manunggaling kawulo Gusthi (simbol: tugu).
Di balik filosofi itulah, wajah Malioboro kini tak hanya mengundang pelancong seromantisme sejarah, tetapi juga merasakan denyut nadi kota Yogyakarta dan merasakan keseharian dan kehidupan warganya yang dijumpai di setiap sudutnya.
Bangunan lawas masih terlihat di kawasan Malioboro. Sapa renyah nan ramah para penjual kaki lima dan seniman jalanan ada di sepanjangnya menjadi cerita sejarah yang kini kian berbenah karena penataan kota (relokasi). Surganya belanja batik dan barang kerajinan serta pesona nan romantis pun ditawarkan lewat temaram senja lampu kotanya yang menjemput gelak tawa malam yang kian meramai di sepanjang trotoarnya. Beriring musisi jalanan yang menyanyikan ribuan cerita cinta selalu meromantisasi dari semua kisah yang tercipta di kota ini. Tak lupa berbagai kuliner pun bercumbu mesra menggoda pengunjung jalan.
Kini Malioboro dikembalikan fungsinya untuk lebih ramah bagi pedestrian (pejalan kaki) melalui upaya berkelanjutan dari semula pengaturan dan relokasi di lahan parkir Abu Bakar Ali dan penataan taman serta trotoarnya serta berbagai rencana atau alih fungsi yang terus diupayakan pemerintah kota dan tentunya dapat berubah sesuai kebijakan-kebijakan baru. Menarik untuk mengenalnya lebih jauh, temukanlah cerita usangnya yang tersembunyi dan nantikan selalu perubahan wajah Malioboro dari waktu ke waktu dalam nostalgia waktu di kotaku.
Comments
Post a Comment
thanks,