Friday, 22 July 2016

Bertemu Yesus Dalam Wajah Jawa

Menggelitik di pikiranku, iringan dedaunan kering disekitar seolah berbisik membisikkan kata "ayo ndongo" (mari berdoa). Namun mataku terperanjat menatap setumpuk batu yang mereka sebut "candi" dan logikaku berkecamuk dengan iman. Candi yang akrab digunakan sodara kita yang memeluk agama Hindu-Budha kini hadir sebagai gereja.

Candi Mandala Hati kudus Yesus Ganjuran
Foto: Buku Harian Laura




Ya itulah pemandangan unik yang tak biasa di depanku. Ku ambil bangku dan aku mulai duduk, perlahan kututup mataku kunikmati sepi dan bisik lembut dedaunan kering menyibak dan membelai rambut tipisku ringan. Dan ketenangan itu membawa imanku bersatu dengan logikaku perlahan tuk menyadari "bahwa Tuhan ada di manapupun ada dekat di hati kita, sejauh doa" Adapun yang dihadapanku hanyalah sarana untuk mengingatkan kita untuk datang pada Tuhan dalam doa, sebagaimana candi itu dibuat di tanah Jawa dahulu dalam rangka penyebaran ajaran agama Katolik di masyarakat jaman kerajaan Mataram-Majapahit yang kental budaya Hindu-Jawa. 

Candi katolik, begitulah tumpukan batu dengan patung Yesus berbusana Raja Jawa duduk dan tangannya menyentuh dada menunjukkan hatiNya. Sementara di atas patung itu ada tulisan “Sampeyan Dalem Sang Maha Prabu Yesus Kristus Pangeraning Para Bangsa.” yang ditulis dengan tulisan Jawa. Sarat dengan simbolis terdapat 9 undakan (tangga) untuk sampai pada patung Yesus sebagai simbol "nutupi babahan hawa sanga" yang secara singkat bisa disebut pengendalian terhadap 9 lobang (hawa nafsu/ keinginan/kehendak) yang berasal dari tubuh manusia. 
Gereja Ganjuran, Bantul Yogyakarta
Foto: Buku Harian Laura

Sang Maha Prabu Jesus Kristus Pangeraning Para Bangsa
Foto: Buku Harian Laura
Sementara di sisi kiri berdiri bangunan gereja berbentuk rumah Joglo yang lengkap dengan ornamen tiang penyangga dihias ukiran khas Jawa, atap, dan lampu kuno. Bangku kayu panjang berjajar layaknya gereja pada umumnya lengkap dengan sandaran kaki untuk bersujut. Meski begitu gereja itu nampak mirip dengan "keraton" kerajaan Jawa.
Selasar Gereja Ganjuran
Foto: Buku Harian Laura
Pemandangan lain di selasar joglo depan gereja teduh di bawah rerindangan pohon dan beberapa orang yang datang tampak beristirahat tiduran atau sekedar duduk-duduk mengobrol diatas lembaran tikar yang juga disediakan. Nampak juga khas gereja katolik, ukiran pemberhentian untuk jalan salib di dinding menuju candi disekitar ruang gamelan (alat musik Jawa) yang masih digunakan untuk mengiringi misa-misa dalam bahasa Jawa. Sementara di sisi kiri candi terdapat 9 keran air dimana  sumber mata airnya ada di bawah candi dan dipercaya beberapa orang sebagai mukjizat air suci yang berkhasiat menyembuhkan penyakit. Diambil sebagai namanya Perwita konon ceritanya adalah nama orang pertama yang sembuh dari penyakitnya karena imannya melalui air tsb, dan dikenallah mata air itu dengan sebutan Tirta Perwitasari. Begitulah potret inkulturasi  budaya Hindu Jawa dengan ajaran-ajaran gereja katolik pada jaman itu masih bisa kita lihat melalui peninggalan situs sejarah Candi Mandala dan bangunan Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran. Nilai-nilai positif budaya yang dibawa dan disesuaikan dengan ajaran gereja menjadi bukti kearifan lokal setempat.

No comments:

Post a Comment

thanks,