Wednesday, 16 January 2013

Ngerasain juga BANJIRNYA IBUKOTA



Jl. Otista Banjir 16 Januari 2013
(Foto : Buku Harian Laura)
Ketika surut yang terlupakanpun muncul
(Foto: Buku Harian Laura)

Jakarta ibukota yang ga pernah absen kena banjir setiap musim hujan dan hujan lebat berkepanjangan, di awal tahun 2013 ini kebagian banjir lagi. Kalalu dulu cuma liat di TV sekarang ngerasain juga kakinya nyelup (terendam) di air banjir yang ga tau berpa jumlah kumannya itu.
Aku yang kamu buang dan yang kamu lupakan
(Foto: Buku Harian Laura)

Rabu, 16 Januari 2013 pukul 06. 45 pagi tulilut sms dari sahabatku Pipit membuatku bangun pagi itu. “Kantor libur dong ka? Banjir,, kaka ga bisa lewat,,” Ah masak sih pikirku sambil beranjak dari tempat tidurku dan berpikir itu iseng aja biar aku bangun. Selang tak lama Mas Jubi whatsup ak “kk hari ini libur dunk, ga bisa lewat” plus ditambahi lagi copy berita soal banjir yang diunduh dari internet. Wah ga ada alasan lagi buat ga percaya…hmmm BANJIR beneran. Hari Rabu itu terpaksa bolos kerja padahal sudah mandi dan siap2, jadinya ya cuma nonton TV, online, online, dan online..sambil pingin tahu kondisi kantor dan jalan disana seperti apa cari info dari temen-temen yang bisa sampai kantor. Bersamaan itu aku bingung aku harus ngurus uang catering yang sudah terlanjur dipesan dan harus dibayar DPnya dan lain2 untuk Perayaan Natal kantor hari Kamisnya. Wah untung ada m-banking aku transfer saja dulu dan minta tolong temanku Teo buat ngurus uang itu, syukurlah dia mau ngebantu.

Rabu malam aku keluar cari makan sekaligus ingin tau kondisi jalan seperti apa. Sampai juga di jalan yang kena Banjir yang harus aku lalui untuk ke kantor. Lumayan tapi sudah agak surut malam itu. Dan kusempetin bertanya sama tukang bajai yang sedag mangkal di sekitar jalan alternatif buat aku pergi ke kantor  besok pagi selain nyeberang banjir di Jl. Abdulah Safei. Dan diberikan opsi lewat Cawang yang pasti jauh muaceeet cet karena semua orang pasti lewat situ atau lewat gang kelor saja tukasnya. Atau kalau mau cepet jalan kaki menyeberang banjir atau naik gerobak bayar Rp. 10.000,- sampai Rp. 15.000,-Wah ternyata banjir yang jadi bencana bagi sebagian orang justru jadi rejeki buat menyewakan gerobak untuk menyeberang atau sewa ban Rp. 5.000,- buat yang mau bermain di Waterboom gratis Kampung Melayu, yang biasanya anak-anak.
Bencana Banjir dan Wisata Dadakan
(Foto : Buku Harian Laura)
Mati lampu sepulang makan lalu dilanjut hujan deras tengah malamnya disertai petir dan angin yang mengerikan. Ternyata hujan terus tanpa henti sampai pagi hari Kamis, 17 Januari 2013. Dan kali ini aku harus berngkat ke kantor bagaimanapun caranya. Sudah coba  Tanya temen yang rumahnya ga jauh dari kos tapi ternyata dia ga masuk  karena sedang sakit. Tapi tetep harus berangkat ini Karena sore harus pergi ke Panti Asuhan di daerah Cililitan untuk Perayaan Natal dan bakti sosial bersama di sana. Dan acara itu tidak mungkin diundur katering sudah dipesan sebegitu banyak dan semua sudah disiapkan.
Salemba Menyemut, Pramuka Tergenang
(Foto : Buku Harian Laura)
Ternyata guyuran hujan sepanjang malam hingga pagi yang juga belum berhenti saat aku pergi ke kantor membuat banjir lebih parah di banyak tempat dan menggenangi jalan ibukota dengan airnya yang berwarna coklat dan sampah di mana-mana. Tadi malam sampai setasiun Tebet masih dibuka paginya tidak bisa. Hanya microlet belalu lalang itupun hanya mondar mandir untuk jarak tempuh yang masih jauh dari kantor. Tak da ojek juga taksi di sepanjang jalan Jl. Abdulah Safei. Ya sudah aku naik microlet saja. Putar jauh dari arah yang seharusnya ke kantor sampai aku di daerah Kuningan, disitu aku berharap bisa dapat taxi, tetapi ternyata aku tak juga mendapat taxi. Selain taxi penuh bayak juga yang tidak mau. Kalaupun ada yang  berhenti saat ke stop begitu anya mau kemana dan kujawab ke Cawang mereka tidak mau karena mereka taut kena macet yang sangat parah. Belum lagi lewat Otista separuh badan jalan tergenang banjir yang cukup tinggi Akhirnya aku naek microlet lagi sampai ke Hotel Haris, dari situ lanjut dengan Kopaja sampai Manggarai, dari Manggarai naek bajai samapai depa RS. St. Carolus dan naik lagi microlet lewat Salemba yang muaceet nya luar biasa. Dijalan sudah beradu klakson dan makian di sana-sini dari pengendara mobil, motor, angkutan, dan pelanggaran apapun tak terelakkan tanpa ada polisi yang menghentikannya karena keadaan tidak memunginkan. Rasa gerah, microlet penuh sementara kulihat  di sisi badan jalan lain ke arah Pramuka bajir cukup tinggi menggenangi. Ah akhirnya sampai juga di Kampung Melayu, lanjut jalan kaki sampai kantor kira-kira pukul setengah dua siang.
Di kantor catering untuk makan siang tidak bisa datang dan semua karyawan harus cari makan siang sendiri-sendiri. Siang menjelang sore kami lalu berngkat ke Panti Asuhan di Cililitan, sebelum ke sana kami mampir dulu ke kantor cabang di Cakung untuk menjemput yang juga akan ikut ke Panti. Tapi akhirnya kami batal datang karena berjam-jam kami terjebak macet diantara truk-truk tronton dan kami hanya berkutat untuk bisa keluar degan berbalik arah. Ntunglh temanku Teo yang sudah erangkat sebelumnya dengan teamnya lewat Koja akhirnya sampai. Uang bantuan persembahan kasih belum bisa disampaikan karena masih ku bawa, tetapi konsumsi, bingkisan hadiah games untuk acara akhirnya bisa diberikan begitu saja ke panti tanpa jadi ada acara perayaan Natal bersama. Mau bagaimana lagi kami tidak bisa datang beberapa teman yang lain juga niat berbagi kasih harus berakir begitu karena keadaan yang tidak memungkinkan. Dan ternyata pantipun dalam keadaan banjir.

Malamnya aku pulang dari kantor untuk bisa pulang ke kos aku menumpang perahu karet tim SAR dan lanjut dengan naik microlet. Air masih menggenang, pagr pembatas jalan di Jl. Abdulah Safei hanya tinggal sedikit.
Jakarta menjadi sungai
(Foto: Buku Harian Laura)
Salah satu angkutan umum untuk Ibu Kota
(Foto : Buku Harian Laura)
Banjir membuat sebagian kota lumpuh, aktivitas perekonomian menjadi tidak lancar, para pekerja sulit untuk berangkat kerja ke kantor, sebagian kantor memilih untuk meliburkan karyawannya, sebagian lagi tidak. Anak-anak asik bermain air di area banjir tanpa tau bahayanya, banyak warga yang rumah dan tokonya terendam banjir harus mengungsi dan merugi, semenatara para pemilik gerobak meraup keuntungan dari menyewakan gerobaknya untuk sarana penyeberangan di area banjir. Jalan layang ramai seperti pasar banyak penjaja makanan mangkal dan menjadi tempat rekreasi, orang banyak datang hanya untuk berfoto dan sekedar melihat-lihat. Air coklat tergenang di  mana-mana dengan sampah yang tak terhitung, entah bagaimana saat banjir surut dan semua menjadi PR untuk membersihkannya. Mari dari sekarang dimanapun kita biasakan hidup lebih bersih dari hal sederhana tidak membuang sampah sembarangan dan juga di sungai.
(special thanks to Mas Ruli, Mbak Rachel)
Jakarta menjadi sungai dalam sehari
(Foto : Buku Harian Laura)

No comments:

Post a Comment

thanks,