Thursday, 27 August 2015

Love Children, Save Tukik, and PLTB From Pantai Goa Cemara


Sore yang cerah hari Minggu, 09 Agustus 2015. Hari itu aku diajak kakakku ikut jalan-jalan ke pantai. Main di pantai sudah tentu hal yang jarang dan aku tertarik memang untuk ikut. Kebetulan saja berangkatnya sore jadi ga perlu takut panas dan jadi item, maka aku berangkat bercelana pendek dan t-shirt saja. Kira-kira sekitar  jam tiga sore kami meluncur dengan sepeda motor dari Jalan Kaliurang menuju kota Bantul, ke daerah pesisir pantai selatan tepatnya di Pantai Goa Cemara.

Pantai Goa Cemara, Patehan, Gadingsari, Sanden, Bantul, Yogyakarta
(Foto: Buku Harian Laura)
Cemara Udang Pantai Goa Cemara Yogyakarta
(Foto: Buku Harian Laura)

Pantai Goa Cemara,  terletak di dusun Patehan, Gadingsari, Sanden, Bantul, Yogyakarta. Letaknya kurang lebih 30an km dari pusat kota Yogyakarta. Suasanannya teduh dan rindang, tentu saja dengan banyak pohon cemara (jenis cemara udang) di sekitarnya sesuai nama. Selain lengkungan indah yang menjadikannya rongga seperti goa, cemara jenis ini berguna untuk menahan abrasi pantai agar tanah sekitar tidak tergerus ombak dan juga mencegah tiupan anging pantai yang cukup kencang. 

Pelepasan Tukik (Bayi Penyu) Pantai Goa Cemara 09 Agustus 2015
(Foto: Buku Harian Laura)

Rumah Penyu - Konservasi Penyu dan Pembangkit Listrik Hybrid - Tenaga Surya dan Angin
(Foto: Buku Harian Laura)
Angin sore silir-semilir menikmati Es Degan minuman khas pantai dan Mie Instan Cup Styrofoam makanan standar murah meriah yang lumayan pas buat iseng mengisi perut yang belum makan berat sedari pagi. Dan kamipun masih menunggu, rencananya hari itu ada acara Pelepasan Bayi Penyu (Tukik) dalam rangka pelestarian satwa Penyu/ kura-kura yang diadakan oleh relawan penyu Yogyakarta dan mereka para donatur pengadopsi tukik-tukik (keluarga beserta anak-anak mereka) sekaligus sebagai wahana bermain dan belajar untuk pengenalan anak pada satwa serta lingkungan setempat. Dari mereka yang datang selain relawan dan para pengadopsi tukik ada juga beberapa bule-bule yang bersemangat mengikuti acara itu. Dan seperti biasanya aku lihat-lihat saja sembari menemani kakakku yang jeprat sana jepret sini motret yang perlu dan ga perlu dipotret.

Mengapa dilakukan gerakan adopsi penyu ini? tujuannya jelas untuk pelestarian satwa penyu yang terancam punah. Karena dari 1000 tukik yang dilepas harapan hidupnya hanya satu tukik saja yang kemungkinan dapat bertahan hidup di lautan lepas, kira-kira seperti itu estimasinya. Selain itu duluya sebelum didirikan balai konservasi sumber daya alam perlindungan penyu "Rumah Penyu" oleh Kementrian Kehutanan para nelayan setempat biasanya menjual belikan telur-telur penyu yang mereka temukan dengan harga sekitar Rp. 5.000,- saja ber butir untuk dikonsumsi, alhasil sudah cukup sulit ditemukan dan pengembang biakannyapun susah sehingga penyu rawan dari kepunahan. Maka dengan digalakkannya pelestarian penyu yang didukung para relawan penyu Yogyakarta aktifitas pemperdagangkan telur penyu yang dilakukan nelayan setempat tersebut beralih menjadi aktifitas kompensasi atas jasa penemuan penyu dengan tujuan pelestarian satwa penyu. Jadi mekanisme dari penggalangan dana para donatur tersebut, mereka masing-masing boleh mengadopsi dengan menjadi donatur Rp. 25.000,- untuk setiap tukik/ bayi penyu. Dari nilai tersebut Rp. 10.000,- nantinya akan diberikan kepada nelayan setempat sebagi kompensasi penemuan telur untuk setiap butirnya agar tidak diperjual belikan lagi sebagai konsumsi. Nilai tersebut diharapkan mampu memberikan kompensasi yang lebih baik dari pada aktifitas komersial sebelumnya, sehingga akan menarik minat nelayan setempat untuk ikut berperan serta dalam pelestarian satwa peyu. Sedang sisanya Rp. 15.000,-  menjadi dana yang digunakan para relawan untuk operasional dan penggalakan kegiatan semacam.
Pengembangbikan Penyu
(Foto: Buku Harian Laura)

Relawan dan Donatur Penyu Yogyakarta Dalam Acara Pelepasan Tukik, Pantai Goa Cemara
(Foto: Buku Harian Laura)

Selain menengok acara pelestarian penyu di Goa Cemara, kita juga bisa belajar dan melihat optimalisasi lingkungan setempat di pesisir pantai tersebut. Selain sektor pertanian dan pariwisata optimalisasi dilakukan juga dengan adanya Listrik Mandiri dari Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Goa Cemara. Karena di daerah pantai angin cukup kencang berhembus, hal tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai sarana pembangkit listrik oleh masyarakat setempat. Dengan menggunakan turbin/kincir angin.

Listrik Mandiri dengan Pembangkit Listrik Hybrid (Tenaga Surya dan Angin)
Pantai Goa Cemara
(Foto: Buku Harian Laura)



1 comment:

  1. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Indah dan bersih ya pantainya.
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    ReplyDelete

thanks,