Monday, 29 June 2015

Farmville Citayam



Farmville Citayam
(Foto: Buku Harian Laura)
Dari Depok, Senin siang sekitar jam 3 sore aku diajak untuk melihat-lihat peternakan milik keluarga sepupuku. Berjalan di jalan setapak diantara pohon singkong yang rimbun yang rata-rata tingginya melebihi tinggi badan orang dewasa itulah letak peternakan milik sepupuku di Citayam. 
(Foto: Buku Harian Laura)
Lokasinya cukup sulit dijangkau jika tidak menggunakan kendaraan pribadi. Kalau biasanya aku hanya bermain game berkebun dan berternak online nah yang satu ini riil tapi ya bedanya di sana aku hanya melihat saja bukan bermain menanam dan beternak. Tapi lumayan sekedar mengisi waktu luang, aku melihat-lihat saja. Cukup luas tapi tak terlalu besar dengan dipagari batako peternakan itu tersembunyi di tengah kebun singkong, tidak terlihat dari jalanan. Di sana ada orang penduduk setempat yang dipercaya untuk mengurus peternakan itu, namanya Pak Kimsun dan Bu Nyai. Merekalah yang mengurus semua kebutuhan ternak sapi, kambing, angsa, bebek, dan ayam. Dari mencari makan dengan merumput, membersihkan kandang, dan merawat ternak-ternak itu. Sudah sering kudengar bisnis peternakan seperti ini menitipkan ternak untuk dikelola penduduk setempat. (Baca juga: "Maro/ Gaduh") Dengan sistem maro keuntungan didapat dari bagi hasil, dimana sistem seperti itu telah menjadi budaya/ tradisi di Indonesia dan dengan sebutan yang berbeda-beda di setiap daerah. Maro sendiri berasal dari kata "separo" (dalam bahasa Jawa) yang berarti setengah, jadi ya seperti itulah kurang lebih setiap ada keuntungan dari beternak hasilnya akan dibagi dua alias stengah-setengah. Bagaimana dengan anak sapi yang hanya satu saja sekali lahir kan tidak mungkin dipotong jadi dua? nah itu kembali pada kesepakatan bersama semisal anak pertama menjadi milik pengelola dan anak sapi yang dilahirkan kedua menjadi milik pemilik investasi sapi atau sebaliknya. Intinya bisnis seperti itu tergantung kesepakatan untuk teknisnya dan hubungan yang intim antara pemilik investasi dan pengelola sehingga terjalin kepercayaan menjadi salah satu hal penting untuk sukses menjalaninya.

Pak Kimsun memberi makan angsa, bebek, dan ayam
(Foto: Buku Harian Laura)

Kandang Ayam
(Foto: Buku Harian Laura)


Deva dan kambingnya
(Foto: Buku Harian Laura)
Si kecil, sapi baru Deva yang baru lahir
(Foto: Buku Harian Laura)


(Special Thanks to: Tante Yun, Eyang Joki, Deva, Probo, Pak Kimsun, Bu Nyai)

No comments:

Post a Comment

thanks,