Monday, 7 November 2011

Selada Sampah

Siapa yang sangka selembar hijau segar menghias piring dengan nasi panas dan ayam goreng kremes lengkap dengan sambalnya di ambil dari gunung sampah di belakang rumah.


Panen Selada di Kebun Sampah
(Foto: Buku Harian Laura)
Suatu siang di ibukota dari beranda kamar sembari kunikmati semilir angin mengipas rambut tipisku di sela terik matahari yang cukup membuatku gerah jika berada di dalam kamar. Dan sembari kunikmati semilirnya itu kupandangi hamparan hijau di depanku. Sebuah kebun dengan beberapa jenis tanaman yang tumbuh bersama gunung sampah. Begitulah salah satu potret hijau disudut kota metropolitan ini. 
Kebun itu tentu bukan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang disediakan bagi masyarakat setempat untuk membuang sampah, tetapi demi alasan "praktis", alasan "yang lain juga buang di situ" atau juga alasan "ah bukan tanahku ini" orang-orang membuang sampah di kebun itu. Sementara itu beberapa dari mereka melalukan yang sebaliknya, memanfaatkan tanah yang ada untuk bercocok tanam meski sedikit tapi cukup untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Ya di kebun itu di tanami beberapa jenis tanaman dan sayuran yang seperti selada, kangkung, tomat, cabe, juga singkong yang tampak subur di tengah sampah yang menggunung. Mereka menyibak sampah dan mencakul tanah, menanaminya dengan benih tanaman, menyiangi dan mengairinya setiap hari. 
Memanen dan menanam selada
(Foto: Buku Harian Laura)


Mengairi kebun dengan air pembuangan MCK
(Foto: Buku Harian Laura)
Masih mencoba memaksimalkan yang ada di sela-sela tanah kebun mengalir air sisa pembuangan MCK (Mandi Cuci Kakus) di parit/ got dari rumah-rumah di sekitar, itulah yang mereka gunakan untuk mengairi kebun sayur mereka itu. Air sabun untuk tanaman sayur, dan tanaman itu tumbuh menghijau di antara sampah. Semua dilakukan dengan memaksimalkan apa yang ada untuk memenuhi kebutuhan, sederhana makan sehari-hari. 

Ironis jika dibandingkan dengan selembar selada yang tersaji di piring restoran siap saji yang bahannya dibeli dari supermarket dan ditanam di perkebunan dengan apik sesuai standar penanaman yang seharusnya. Tapi keduanya sama-sama selada, dengan rasa dan fungsi yang sama yaitu untuk lalapan, menemani nasi putih hangat dan ayam goreng kremes juga sambal yang nikmat dan kita makan hari ini.
Ketika yang hijau tumbuh bersama sampah
(Foto: Buku Harian Laura)

Yang belakang bukan berarti tempat sampah
(Foto: Buku harian Laura)

No comments:

Post a Comment

thanks,