Sunday, 6 November 2011

Bertemu Rinduku di Penghujung Pena

Apa kabar sahabat Buku Harian Laura, lama tak jumpa denganku begitu banyak kisah terlewat begitu saja tak sempat kutuliskan untukmu. Semilir angin sore ini dan alunan lagu-lagu yang kuputar dari komputer menemaniku bertemu rinduku pada pena buku hariannku yang cukup lama ku tinggalkan. Semilir angin sore membelai menyibak rambutku di beranda kamar kosku dimana aku biasa berdiri memandangi bangunan tinggi yang hampir menutup semua pandangan mataku saat menatap keluar. Inilah salah satu sudut kota yang bisa ku tuliskan untuk kalian. Dari sebelah kiri nampak tak jauh berbeda asap mengepul karena deru kendaraan dan gedung-gedung tinggi angkuh menantang langit dengan dihiasi temaram lampu kota yang melayangkan ingatanku pada sederet kisah dan kenangan yang telah, sedang dan akan kulewati. Oya sebelum tinggal di sini kurang lebih sebulan aku tinggal menumpang di kos temanku, memang tak cukup luas tapi ga sempit-sempit amat, aku tinggal bertiga di sana. Suasana kekeluargaan yang hangat dan tetangga yang juga hangat meski aku orang baru di situ. Dari beranda itu terhampar luas potret sebuah sudut ibukota dengan gedung, asap, temaram lampu kota seperti yang kuceritakan tadi. Sebait rindu selalu kuselipkan dihati ketika kutatap hamparan potret kota ini. Selayang pandang wajah ibuku, potret rumahku dan ingatanku pada kampung halaman masih menemaniku di sini. Tapi ku hirup nafasku dalam-dalam dan kuyakinkan hatiku pada tekadku untuk sebuah pilihan ini. Ya mencoba belajar bersahabat dengan kota untuk sebuah perjalanan baru.



Kos Mbak Put
(Foto: Buku Harian Laura)
Beranda Rumah Pak Haji (Wisma Bougenvil)
(Foto: Buku Harian Laura)
Sofa di depan beranda kamar
(Foto: Buku Harian Laura)

Awal Juni aku pindah kos agar lebih dekat dengan tempat kerjaku. Di beranda rumah Pak Haji Wisma Bougenvil begitu biasa aku menyebutnya karena di depannya di tanam beberapa bunga Bougenvil warna pink keunguan yang segar. Oya aku senang tinggal di sini, setidaknya meski aku jauh dari kampung halaman tapi beranda ini mengingatkanku pada mendiang kakekku yang juga suka menanam bunga bougenvil dengan warna-warna yang serupa. Selain bunga bougenvil juga ada bunga morning glory yang tergantung mungil tepat di depan kamarku di depan wastafelnya. Sangat cantik ketika pagi ku buka kamarku bunga morning glory sudah mekar seperti namanya akan selalu mekar di pagi hari dan menutup ketika senja menjemput pulang pak matahari. Rumah yang sederhana, bahkan kamarkupun terbuat dari papan tripleks yang dicat apik seperti layaknya tembok sebagai sekatnya. Di beranda ini ada tiga kamar kos, dan dua kontrakan yang saling terhubung yang juga milik Pak Haji (bapak kos). Suasana yang tak terlalu ramai membuatku cukup nyaman. 

No comments:

Post a Comment

thanks,